DINAMIKA PELAKSANAAN UPACARA NGABEN DI KREMATORIUM BAGI MASYARAKAT DESA UNDISAN, TEMBUKU, BANGLI, BALI

DINAMIKA PELAKSANAAN UPACARA NGABEN DI KREMATORIUM BAGI MASYARAKAT DESA UNDISAN, TEMBUKU, BANGLI, BALI

Authors

  • I Wayan Arya Adnyana

DOI:

https://doi.org/10.47655/widyadewata.v6i1.101

Keywords:

Pro dan Kontra, Upacara Ngaben, Krematorium

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pro dan kontra upacara ngaben di krematorium bagi masyarakat Desa Undisan, Tembuku, Bangli, Bali, mengkaji makna pro dan kontra upacara ngaben di krematorium bagi masyarakat Desa Undisan, Tembuku, Bangli, Bali, dan untuk mengkaji implikasi upacara ngaben di krematorium bagi masyarakat Desa Undisan, Tembuku, Bangli, Bali. Penelitian ini adalah kualitatif yang mengambil lokasi Desa Undisan, Tembuku, Bangli, Bali. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumen. Peneliti sendiri sebagai alat utama didukung oleh pedoman wawancara, kamera, dan alat tulis. Hasil penelitian tentang pro dan kontra terhadap upacara ngaben di krematorium mengungkapkan hal berikut: yang pro adanya persamaan upacara ngaben di krematorium, kesamaan Sraddha dan Bhakti, persamaan keyakinan, perubahan tradisi, pertimbangan pemilihan krematorium, pertimbangan efisiensi biaya, keterbatasan waktu, tenaga dan solidaritas terbatas, tenaga kerja sektor non-pertanian, masyarakat yang berpendidikan dan sanksi yang longgar terhadap perubahan sosial. Adapun yang kontra adalah tradisi kuat, solidaritas sosial, pekerjaan sektor pertanian, masyarakat pendidikan terbatas, dan sanksi berat terhadap perubahan sosial. Makna terdiri dari dua yaitu; makna yang pro adalah upacara ngaben di krematorium berperan minimal, adanya makna keyakinan, makna ekonomi, makna sosiologis dan makna efisiensi, sedangkan makna yang kontra adalah upacara ngaben di setra desa adat berperan optimal, pengayoman secara utuh, makna menyama braya, makna pemertahanan tradisi, dan makna etika. Implikasi yang pro adalah adanya implikasi teologi, solidaritas sosial desa adat digantikan dadia atau kekerabatan dan keterikatan tradisi longgar, sedangkan implikasi yang kontra adalah solidaritas sosial desa adat yang kuat, keterikatan yang kuat dengan tradisi, dan keterikatan hubungan antara siwa-sisya

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kajeng, I Nyoman. dkk. 1997. Sarasamuscaya dengan Teks Bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno. Surabaya: Penerbit Paramita

Gunawan, Imam. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Teori dan Praktik. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Parimartha, I Gede. 2013. Silang Pandang Desa Adat dan Desa Dinas di Bali. Denpasar: Udayana University Press.

Pilliang, Yasrat Amir. 2004. Posrealitas : Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Yogyakarta : Jalasutra.

Ritzer, G. 2013. McDonaldisasi Masyarakat (Terjemahan: Fajria, A. 2014). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Soerjono, Soekanto. 2003. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sudharta, Tjok, Rai dan Ida Bagus Punyatmaja. 2001. Upadesa. Surabaya: Paramita.

Sudarma, I Putu. 2000. Penggunaan Uang Kepeng dalam Upacara Ngaben di Desa Adat Suralaga. Desa Abiantuwung, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Tesis. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Gajahmada.

Surpha, I Wayan. 2002. “Eksistensi Desa Adat dan Desa Dinas di Bali”. Denpasar: Pustaka Bali Post.

Downloads

Published

2023-06-27

How to Cite

DINAMIKA PELAKSANAAN UPACARA NGABEN DI KREMATORIUM BAGI MASYARAKAT DESA UNDISAN, TEMBUKU, BANGLI, BALI: DINAMIKA PELAKSANAAN UPACARA NGABEN DI KREMATORIUM BAGI MASYARAKAT DESA UNDISAN, TEMBUKU, BANGLI, BALI. (2023). Widyadewata, 6(1), 19-30. https://doi.org/10.47655/widyadewata.v6i1.101